
JUTAAN pelayat memadati jalan-jalan di Teheran pada Senin (6/7/2026) untuk mengikuti prosesi pemakaman Ali Khamenei. Momen ini menjadi salah satu titik krusial dalam rangkaian acara selama sepekan yang berfungsi ganda: sebagai penghormatan terakhir bagi mendiang Pemimpin Tertinggi Iran dan sebagai latihan pesan politik yang dikelola secara ketat bagi sekutu maupun musuh negara tersebut.
Otoritas Iran mengeklaim sekitar 11 juta orang menggunakan transportasi umum untuk menghadiri peringatan yang dimulai sejak Sabtu (4/7). Khamenei tewas bersama beberapa anggota keluarganya dalam gelombang pertama serangan udara Israel dan Amerika Serikat di Teheran lebih dari empat bulan lalu yang menandai dimulai perang besar di kawasan tersebut.
Dalam prosesi tersebut, sentimen anti-Barat terlihat sangat kental. Rekaman media pemerintah menunjukkan partisipan melempari foto Presiden Trump dengan batu. Yang lain membentangkan spanduk besar bertuliskan “Kami akan membunuh Trump” dalam bahasa Farsi dan Inggris.
Pesan melalui Ayat Suci
Pemimpin baru Iran menggunakan acara ini untuk mengirimkan sinyal diplomatik yang tajam. Delegasi asing yang tiba pada Jumat di Mosalla Agung Teheran disambut dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran yang dipilih secara spesifik berdasarkan posisi politik negara mereka selama perang:
- Hizbullah: Disambut dengan ayat tentang siklus ilahi yaitu Tuhan memilih martir dan mengungkap orang-orang beriman.
- Hamas: Menerima ayat yang memuji mereka yang tetap setia pada janji kepada Tuhan.
- Arab Saudi: Sebagai negara yang menampung pangkalan AS delegasi Saudi disambut dengan kutipan Perang Badr yang merujuk pada pertemuan dua pasukan: satu di jalan Allah dan lainnya di jalan orang kafir.
- Turki: Teheran menyindir netralitas Ankara dengan ayat yang menyatakan bahwa orang beriman yang tetap di rumah tidak setara dengan mereka yang berjuang di jalan Allah.
Sanam Vakil, direktur program Timur Tengah di Chatham House, menilai penggunaan ayat-ayat tersebut sebagai sinyal strategis yang memberikan semangat bagi mitra perlawanan dan peringatan implisit bagi pesaing regional.
Legitimasi dan Ketegangan Politik
Prosesi pada Senin menampilkan truk hitam yang membawa peti mati Khamenei yang dibalut bendera nasional, dikelilingi oleh lautan manusia yang membawa spanduk merah bertuliskan tuntutan balas dendam. “Kami tidak memaafkan atau melupakan,” bunyi salah satu plakat.
Sina Toossi dari Center for International Policy menyatakan bahwa prosesi ini dimaksudkan untuk memberikan legitimasi baru pada pandangan dunia Khamenei dan menunjukkan bahwa konstituensi besar di Iran tetap dimobilisasi di belakangnya. “Iran memberi sinyal bahwa mereka tidak akan mundur,” ujarnya.
Sikap menantang ini juga tercermin dalam negosiasi dengan AS terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Iran tetap bersikeras memegang kendali penuh atas jalur strategis tersebut, meskipun hal itu berisiko menghambat pencairan miliaran dolar aset mereka yang dibekukan di luar negeri.
Ketidakhadiran Penerus
Meskipun keamanan diperketat, dengan pejabat tinggi seperti Menlu Abbas Araghchi muncul di tengah kerumunan menggunakan skuter, sosok Mojtaba Khamenei tidak terlihat. Putra sekaligus penerus mendiang Pemimpin Tertinggi tersebut, yang ditunjuk pada Maret lalu, belum pernah muncul di depan publik, memicu pertanyaan mengenai tingkat kendali yang ia miliki saat ini.
Penurunan level kehadiran diplomatik dari negara-negara Teluk juga menjadi sorotan. Berbeda dengan saat pemakaman Presiden Ebrahim Raisi dua tahun lalu yang dihadiri para pemimpin tertinggi, kali ini Qatar hanya mengirim ketua parlemen dan Arab Saudi mengirim wakil menteri luar negeri. Sementara itu, Emirat Arab dan Kuwait tidak mengirimkan perwakilan sama sekali. (Wall Street Journal.
