
Rentetan gempa bumi yang terjadi di berbagai negara dalam beberapa pekan terakhir tidak menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang tidak biasa di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Fenomena tersebut merupakan bagian dari aktivitas tektonik normal yang berlangsung secara mandiri di masing-masing wilayah.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono mengatakan anggapan bahwa Cincin Api Pasifik sedang semakin aktif lebih banyak dipengaruhi persepsi masyarakat setelah melihat sejumlah gempa besar terjadi dalam waktu berdekatan dan cepat tersebar melalui media sosial.
“Secara ilmiah, sebenarnya tidak ada peningkatan aktivitas gempa yang tidak biasa di Cincin Api Pasifik. Wilayah ini memang menjadi lokasi sekitar 90 persen gempa bumi di dunia, sehingga guncangan merupakan aktivitas yang wajar dan terjadi setiap hari,” kata Daryono dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7).
Ia menjelaskan, berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), sekitar 500 ribu gempa bumi terdeteksi setiap tahun di seluruh dunia, termasuk gempa-gempa kecil yang tidak dirasakan manusia. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen atau sekitar 450 ribu gempa terjadi di kawasan Cincin Api Pasifik.
Artinya, rata-rata terdapat sekitar 1.200 gempa yang terjadi setiap hari di kawasan tersebut, meski sebagian besar berkekuatan kecil dan hanya tercatat oleh instrumen seismik.
Menurut Daryono, persepsi bahwa aktivitas gempa meningkat dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya efek klasterisasi waktu, yakni ketika beberapa gempa signifikan terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan secara kebetulan.
Selain itu, kemajuan teknologi informasi membuat setiap kejadian gempa di berbagai belahan dunia dapat diketahui masyarakat hanya dalam hitungan menit melalui aplikasi pemantau gempa, media sosial, maupun grup percakapan.
“Yang meningkat sebenarnya adalah intensitas penyebaran informasinya, bukan aktivitas gempanya,” ujarnya.
Daryono juga menambahkan perkembangan teknologi pemantauan membuat jumlah stasiun seismik di dunia terus bertambah dan semakin sensitif dalam mendeteksi gempa. Akibatnya, gempa-gempa kecil atau yang terjadi di wilayah terpencil kini dapat tercatat dengan lebih akurat dibandingkan beberapa dekade lalu.
Ia menegaskan fluktuasi jumlah gempa dalam periode tertentu merupakan bagian dari siklus normal pelepasan energi lempeng tektonik dan bukan pertanda Cincin Api Pasifik sedang terbangun atau mengalami peningkatan aktivitas di luar kebiasaan.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah terpengaruh narasi yang mengaitkan berbagai gempa di lokasi berjauhan sebagai satu rangkaian fenomena yang saling memicu.
Sebaliknya, masyarakat diminta tetap mengandalkan informasi resmi dari lembaga pemantau gempa dan kebencanaan serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa yang memang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah rawan, termasuk Indonesia.
