
Jakarta – Protein merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung berbagai fungsi, mulai dari membangun otot, menjaga kesehatan tulang, hingga membantu pembentukan antibodi.
Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi protein dalam jumlah berlebihan ternyata tidak selalu memberikan dampak positif. Asupan protein yang terlalu tinggi dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan membuat beberapa organ bekerja lebih keras, termasuk ginjal.
Kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda, tergantung usia, jenis kelamin, berat badan, serta tingkat aktivitas harian. Menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, asupan protein umumnya dianjurkan sekitar 10 hingga 35 persen dari total kebutuhan kalori harian.
Jika jumlah protein yang masuk ke tubuh melebihi kebutuhan, beberapa tanda bisa mulai muncul. Berikut ciri-ciri tubuh yang mungkin mengalami kelebihan asupan protein.
1. Berat Badan Mengalami Kenaikan
Protein memang sering dikaitkan dengan program pembentukan otot dan diet sehat. Namun, mengonsumsi protein dalam jumlah berlebihan tetap bisa menyebabkan berat badan bertambah.
Setiap gram protein mengandung sekitar empat kalori. Jika jumlah kalori dari protein melebihi energi yang dibakar tubuh, kelebihan tersebut dapat disimpan sebagai lemak.
Karena itu, kebutuhan protein sebaiknya tetap disesuaikan dengan aktivitas fisik. Mengutip Alodokter, orang dewasa yang jarang berolahraga umumnya membutuhkan sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan setiap hari.
2. Sering Mengalami Dehidrasi
Asupan protein yang tinggi membuat tubuh harus bekerja lebih banyak untuk memproses sisa metabolisme dari pemecahan protein.
Ketika protein diolah di hati, proses tersebut menghasilkan zat sisa bernama urea. Zat ini kemudian dibawa ke ginjal untuk disaring dan dikeluarkan melalui urine.
Semakin banyak protein yang dikonsumsi, semakin besar pula beban kerja ginjal untuk membuang urea. Kondisi tersebut dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan.
Jika tidak diimbangi dengan konsumsi air yang cukup, seseorang dapat mengalami tanda dehidrasi seperti mulut kering, rasa haus berlebih, hingga mual.
3. Gangguan pada Sistem Pencernaan
Terlalu banyak mengonsumsi protein juga dapat memengaruhi kondisi saluran pencernaan.
Protein membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan beberapa jenis nutrisi lain. Jika jumlahnya terlalu tinggi, sebagian orang dapat mengalami gangguan seperti sembelit atau diare.
Masalah ini juga dapat semakin parah apabila pola makan tinggi protein disertai dengan rendahnya asupan karbohidrat dan serat. Padahal, serat berperan penting dalam membantu menjaga kelancaran proses pencernaan dan membuat tekstur feses lebih baik.
4. Napas Menjadi Tidak Sedap
Salah satu tanda lain dari konsumsi protein berlebih adalah munculnya bau napas yang kurang sedap.
Kondisi ini dapat terjadi terutama ketika seseorang menjalani pola makan tinggi protein sekaligus mengurangi asupan karbohidrat. Saat tubuh kekurangan glukosa, tubuh dapat masuk ke kondisi ketosis, yaitu proses pembakaran lemak sebagai sumber energi.
Proses tersebut menghasilkan produk sisa metabolisme seperti amonia yang dapat menyebabkan aroma napas menjadi lebih tajam.
Selain itu, sisa asam amino dari protein yang tidak tercerna secara optimal juga dapat berinteraksi dengan bakteri di dalam mulut dan menghasilkan senyawa sulfur yang menimbulkan bau tidak sedap.
Konsumsi Protein Tetap Perlu Seimbang
Protein tetap menjadi nutrisi penting bagi tubuh, tetapi jumlahnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Pola makan tinggi protein tanpa keseimbangan nutrisi lain dapat menimbulkan masalah jika dilakukan dalam jangka panjang. Pastikan asupan protein disertai konsumsi serat, karbohidrat sehat, lemak baik, serta cairan yang cukup agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi lengkap.
