
Jakarta – Nasi yang tersisa setelah makan sering kali disimpan untuk dikonsumsi kembali keesokan harinya. Kebiasaan ini memang praktis, tetapi cara penyimpanannya perlu diperhatikan karena nasi matang dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri penyebab keracunan makanan.
Tidak semua makanan sisa otomatis berbahaya. Risiko biasanya bergantung pada jenis makanan, kebersihan saat memasak, serta berapa lama makanan tersebut berada pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang.
Nasi menjadi salah satu makanan yang perlu mendapat perhatian khusus. Dikutip dari Allrecipes, terdapat bakteri tertentu yang sporanya dapat bertahan setelah proses memasak dan kemudian berkembang ketika nasi dibiarkan pada kondisi yang tidak tepat.
1. Nasi matang tetap bisa terkontaminasi bakteri
Memasak nasi pada suhu tinggi tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko kontaminasi. Nasi dapat mengandung spora Bacillus cereus, bakteri yang ditemukan secara alami di lingkungan, termasuk tanah.
Spora tersebut dapat bertahan selama proses pemasakan. Masalah muncul ketika nasi matang kemudian dibiarkan terlalu lama dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri.
Karena itu, menyimpan nasi di suhu ruang selama berjam-jam bukan kebiasaan yang dianjurkan, meskipun nasi tersebut masih terlihat dan beraroma normal.
2. Suhu penyimpanan menjadi faktor penting
Setelah nasi matang, kondisi penyimpanan sangat menentukan keamanannya. Ketika nasi berada terlalu lama pada suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri, Bacillus cereus dapat berkembang biak dan menghasilkan toksin.
Toksin tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan ketika nasi yang terkontaminasi kemudian dikonsumsi. Inilah alasan mengapa nasi yang sudah didiamkan tidak selalu aman hanya karena dipanaskan kembali.
Bakteri Bacillus cereus juga dapat ditemukan pada berbagai bahan pangan lain, terutama produk berbahan dasar serealia seperti pasta dan mi.
3. Ada istilah ‘sindrom nasi goreng’
Keracunan yang berkaitan dengan Bacillus cereus kerap disebut sebagai fried rice syndrome atau sindrom nasi goreng. Sebutan tersebut muncul karena sejumlah kasus berkaitan dengan nasi yang dimasak kemudian disimpan atau digunakan kembali untuk membuat nasi goreng.
Meski demikian, kondisi ini tidak hanya terjadi pada nasi goreng. Makanan lain juga dapat berisiko jika dibiarkan terlalu lama pada suhu yang tidak sesuai.
Kontaminasi bahkan dapat terjadi apabila peralatan memasak atau permukaan yang digunakan untuk mengolah makanan tidak dijaga kebersihannya.
Gejala keracunan Bacillus cereus dapat berupa mual, muntah, kram perut, dan diare. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang dan kondisi tersebut berisiko menyebabkan dehidrasi.
4. Bagaimana cara menyimpan nasi sisa dengan lebih aman?
Nasi yang masih ingin disimpan sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Setelah matang, dinginkan dan masukkan ke dalam wadah bersih sebelum disimpan di lemari pendingin.
Gunakan wadah yang tertutup untuk mengurangi risiko kontaminasi dari lingkungan. Saat akan dimakan kembali, panaskan nasi hingga benar-benar panas secara merata.
Nasi yang sudah menunjukkan perubahan bau, tekstur, atau tanda kerusakan sebaiknya tidak dikonsumsi.
Pada akhirnya, nasi sisa tidak selalu berarti harus dibuang. Yang paling penting adalah memperhatikan kebersihan, waktu, dan suhu penyimpanannya. Dengan penanganan yang tepat, risiko keracunan akibat pertumbuhan bakteri dapat diminimalkan.
