
Jakarta – Saat menghadapi stres, tidak sedikit orang cenderung mencari makanan manis, cepat saji, atau camilan tinggi kalori sebagai pelampiasan. Namun, ahli gizi menyebut ada cara sederhana yang dapat membantu menjaga pola makan tetap sehat meski sedang berada di bawah tekanan.
Temuan dari sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih makanan. Dalam kondisi tersebut, orang cenderung lebih mudah tergoda mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori dibandingkan pilihan yang lebih sehat.
Para peneliti memperkenalkan strategi yang dikenal sebagai precommitment, yaitu membuat keputusan terkait makanan sebelum rasa lapar, stres, atau keinginan makan muncul. Dengan cara ini, seseorang dapat membatasi akses terhadap makanan yang kurang sehat sehingga lebih mudah mempertahankan pola makan yang baik.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology itu melibatkan 29 mahasiswa yang mengikuti dua sesi percobaan dengan jeda sekitar 16 hari. Pada tahap awal, seluruh peserta diminta menilai 285 jenis makanan berdasarkan tingkat kesehatan, cita rasa, dan daya tariknya. Peneliti juga mengevaluasi kebiasaan makan, kemampuan mengendalikan pola makan, serta tingkat impulsivitas masing-masing peserta.
Berdasarkan penilaian tersebut, peneliti menyusun 96 pasangan makanan untuk setiap peserta. Setiap pasangan terdiri dari satu makanan yang lebih sehat tetapi dinilai kurang menarik, serta satu makanan yang lebih lezat namun kurang baik dari sisi kesehatan.
Selanjutnya, peserta menjalani dua kondisi berbeda. Pada sesi pertama yang dirancang sebagai kondisi santai, mereka merendam tangan di air hangat sambil mengerjakan tugas berhitung tanpa tekanan. Sementara itu, pada sesi stres, peserta diminta bergantian merendam tangan di air dingin dan menyelesaikan soal matematika dalam situasi yang menekan.
Hasilnya menunjukkan bahwa saat mengalami stres, peserta semakin sering memilih makanan yang lebih enak meskipun kandungan gizinya kurang baik. Sebaliknya, ketika mereka diberi kesempatan menerapkan konsep precommitment dengan menghilangkan pilihan makanan tidak sehat sejak awal, pengaruh stres terhadap keputusan makan menjadi jauh lebih kecil.
Strategi ini dinilai efektif karena membantu seseorang mengambil keputusan sebelum muncul rasa lapar atau dorongan emosional. Salah satu contoh penerapannya adalah tidak membeli kue, permen, atau camilan manis saat berbelanja sehingga makanan tersebut tidak tersedia di rumah ketika keinginan ngemil datang.
Peneliti menilai pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung pola makan sehat, terutama bagi orang yang sering berada dalam situasi penuh tekanan.
Ahli gizi sekaligus penulis The Small Change Diet, Keri Gans, menjelaskan bahwa precommitment berarti menentukan pilihan makanan lebih awal, sebelum rasa lapar, stres, atau keinginan mengonsumsi makanan tertentu muncul.
“Dalam pola makan, precommitment berarti membuat keputusan mengenai makanan sebelum stres, lapar, atau craving datang,” ujar Gans.
Sementara itu, ahli gizi Jessica Cording mengatakan strategi tersebut juga dapat mengurangi decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan, terutama ketika seseorang sedang sibuk atau mengalami tekanan.
Meski demikian, Cording mengingatkan agar pilihan makanan sehat tetap disesuaikan dengan selera masing-masing. Menurutnya, memilih makanan yang dianggap sehat tetapi tidak disukai justru membuat pola makan sehat lebih sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
