
Jakarta – Mengatur pola makan untuk menjaga kadar gula darah bukan hanya soal memilih jenis dan jumlah karbohidrat. Waktu mengonsumsinya juga dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, khususnya bagi orang dengan diabetes tipe 2.
Meski begitu, ahli gizi menilai tidak ada jadwal makan karbohidrat yang bisa dianggap paling ideal untuk semua orang. Kebutuhan setiap individu dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan pola aktivitasnya.
Dilansir dari Yahoo, ahli gizi Kendra Haire menyebutkan bahwa waktu makan dalam batas tertentu dapat memengaruhi pengaturan gula darah. Namun, bukan berarti seseorang harus menghabiskan seluruh asupan karbohidrat hariannya pada satu waktu.
Pendapat serupa disampaikan ahli gizi Sapna Peruvemba. Menurutnya, belum tepat jika menetapkan satu waktu tertentu sebagai waktu terbaik untuk mengonsumsi karbohidrat, terutama bagi penderita diabetes maupun pradiabetes.
“Waktu makan mungkin berperan dalam pengaturan gula darah, tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa ada satu waktu terbaik untuk mengonsumsi karbohidrat bagi semua orang dengan diabetes atau pradiabetes,” jelas Peruvemba.
Pagi Hari Bisa Lebih Menguntungkan
Salah satu penelitian yang dimuat dalam Frontiers in Physiology menemukan bahwa kemampuan tubuh dalam mentoleransi glukosa cenderung lebih baik pada pagi hari. Kondisi tersebut kemudian menurun ketika memasuki sore hingga malam.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa tubuh mungkin lebih mampu menangani makanan yang tinggi karbohidrat ketika dikonsumsi pada pagi hari. Kendati demikian, hasil tersebut belum cukup untuk menjadi dasar dalam menetapkan aturan waktu makan yang berlaku secara umum.
Peruvemba menambahkan bahwa bukti ilmiah yang ada saat ini masih belum kuat untuk menentukan jadwal makan tertentu. American Diabetes Association (ADA) juga belum merekomendasikan satu pola waktu makan yang harus diikuti oleh seluruh penderita diabetes.
Karbohidrat Sebelum Olahraga
Waktu mengonsumsi karbohidrat juga dapat disesuaikan dengan aktivitas fisik. Makanan sumber karbohidrat sebelum berolahraga dapat menyediakan energi yang nantinya digunakan oleh otot.
Akan tetapi, jumlah dan waktu konsumsinya perlu disesuaikan dengan berbagai faktor. Di antaranya jenis dan lama olahraga, kondisi gula darah, serta obat-obatan yang sedang digunakan.
Untuk waktu malam, Haire menyarankan agar pilihan makanan berkarbohidrat tidak terlalu berat. Makan malam dengan kandungan karbohidrat tinggi atau kebiasaan mengonsumsi camilan mendekati waktu tidur dapat membuat kadar glukosa bertahan tinggi hingga malam.
Jenis dan Porsi Tetap Lebih Penting
Walaupun waktu makan memiliki peran tertentu, kedua ahli gizi tersebut menilai aspek ini bukan satu-satunya hal yang harus menjadi perhatian utama.
“Saya lebih menyarankan untuk orang-orang lebih memperhatikan jenis karbohidrat, jumlahnya, dan makanan pendampingnya daripada terlalu terpaku pada waktu,” ujar Peruvemba.
Karbohidrat dapat dikombinasikan dengan sumber serat, protein, maupun lemak sehat. Perpaduan tersebut membantu memperlambat proses pencernaan sehingga berpotensi mengurangi lonjakan kadar glukosa setelah makan.
Selain itu, asupan karbohidrat tidak harus dikonsumsi sekaligus. Jumlahnya dapat dibagi secara lebih merata ke dalam beberapa waktu makan, termasuk makanan utama dan camilan, sepanjang hari.
Dengan demikian, pengaturan karbohidrat sebaiknya tidak hanya berfokus pada jam makan. Pemilihan sumber karbohidrat, porsinya, makanan pendamping, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan masing-masing juga perlu menjadi pertimbangan.
