
Jakarta – Cuka apel atau apple cider vinegar cukup populer di kalangan orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan. Minuman hasil fermentasi sari apel ini dipercaya dapat membantu mengontrol nafsu makan hingga kadar gula darah. Namun, konsumsinya tetap perlu dilakukan dengan takaran yang tepat.
Cuka apel dibuat melalui proses fermentasi sari buah apel. Di dalamnya terdapat asam asetat yang menjadi salah satu komponen utama dan banyak dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Salah satu alasan cuka apel sering digunakan saat diet adalah kemampuannya dalam meningkatkan rasa kenyang. Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang lebih mudah mengontrol porsi makan dan mengurangi keinginan untuk makan berlebihan.
Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa cuka apel dapat memengaruhi metabolisme serta kadar gula darah setelah makan. Efek tersebut membuatnya kerap dianggap sebagai salah satu pelengkap dalam pola makan untuk mengelola berat badan.
Dikutip dari Healthline dan Health, penelitian menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi cuka apel setiap hari selama 12 minggu mengalami penurunan berat badan, BMI, lingkar pinggang, dan persentase lemak tubuh yang cukup signifikan.
Meski demikian, cuka apel bukan solusi tunggal untuk menurunkan berat badan. Pola makan seimbang dan aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dalam proses diet.
Berapa banyak cuka apel yang boleh diminum?
Cuka apel pada dasarnya dapat dikonsumsi setiap hari selama jumlahnya tidak berlebihan dan cara konsumsinya diperhatikan.
Takaran yang umum digunakan berkisar 1-2 sendok teh (5-10 ml) hingga 1-2 sendok makan (15-30 ml) per hari. Jumlah tersebut dapat dibagi menjadi 2-3 kali konsumsi.
Bagi yang baru mulai mencoba, sebaiknya gunakan takaran paling rendah terlebih dahulu. Jangan langsung mengonsumsi cuka apel dalam jumlah banyak.
Jangan diminum langsung
Cuka apel memiliki tingkat keasaman yang tinggi sehingga sebaiknya tidak diminum dalam kondisi pekat. Larutkan terlebih dahulu dengan segelas besar air sebelum dikonsumsi.
Kebiasaan meminum cuka apel secara langsung dapat meningkatkan risiko iritasi pada tenggorokan serta mengikis lapisan email gigi.
Beberapa ahli gizi juga merekomendasikan produk cuka apel organik yang tidak melalui proses penyaringan dan masih mengandung mother, yaitu kumpulan komponen hasil fermentasi.
Waspadai efek sampingnya
Mengonsumsi cuka apel secara berlebihan bukan berarti membuat hasil diet menjadi lebih cepat. Justru, jumlah yang terlalu banyak dapat menyebabkan sejumlah efek samping.
Beberapa di antaranya adalah erosi email gigi, sensasi terbakar pada tenggorokan, gangguan pencernaan, hingga penurunan kadar kalium dalam tubuh.
Cuka apel juga dapat berinteraksi dengan obat tertentu, termasuk obat diuretik dan obat untuk diabetes. Karena itu, orang yang rutin mengonsumsi obat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjadikan cuka apel sebagai konsumsi harian.
Jadi, cuka apel boleh menjadi bagian dari pola diet, tetapi bukan pengganti pola makan sehat. Konsumsilah dalam jumlah wajar, selalu encerkan dengan air, dan mulai dari takaran kecil untuk melihat respons tubuh.
